a. Hidroponik dan Aeroponik
Hidroponik adalah suatu istilah yang digunakan dalam bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya. Untuk memperoleh zat makanan atau unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, ke dalam air yang digunakan dilarutkan campuran pupuk organik. Campuran pupuk ini dapat diperoleh dari buatan sendiri atau pupuk buatan yang siap pakai. Adapun keuntungan dengan cara hidroponik adalah sebagai berikut.
a. Tumbuhan bebas dari hama dan penyakit.
b. Produksi tanaman lebih tinggi.
c. Tumbuh lebih cepat.
d. Pemakaian pupuk lebih efisien.
e. Mudah pengerjaannya.
f. Tidak tergantung pada kondisi alam.
g. Tidak membutuhkan lahan luas.
Selain hidroponik, saat ini teknik yang sedang dikembangkan adalah teknik aeroponik. Jika hidroponik media yang digunakan untuk tumbuh akar adalah air dan media lain misalnya kerikil atau pasir. Tapi pada aeroponik tidak menggunakan media sama sekali. Akar tanaman di letakkan menggantung dalam suatu wadah yang dijaga kelembapannya dari air yang biasanya berasal dari pompa bertekanan sehingga timbul uap air. Zat makanan diperoleh melalui larutan nutrien yang disemprotkan ke bagian akar tanaman.
Sistem aeroponik memiliki kelebihan
dibandingkan sistem hidroponik. Pada sistem aeroponik, akar yang menggantung
akan lebih banyak menyerap oksigen sehingga meningkatkan metabolisme dan
kecepatan pertumbuhan tanaman.
b. Kultur Jaringan Tumbuhan
Teknik kultur jaringan banyak
dilakukan untuk menghasilkan bibit tumbuhan dalam jumlah besar dan seragam
sifat genetiknya dalam waktu relatif singkat, misalnya bibit jati, anggrek, dan
kelapa sawit.
Kultur jaringan memanfaatkan sifat
totipotensi sel, yaitu setiap sel membawa informasi genetik yang lengkap
sehingga berpotensi untuk berkembang menjadi individu baru yang lengkap. Kultur
jaringan mula-mula dilakukan oleh Frederick C. Steward. Steward mengkultur
sel-sel akar tanaman wortel dalam suatu media buatan. Dari sel-sel akar itu
berhasil tumbuh tanaman wortel yang lengkap. Hasil percobaan ini membuktikan
bahwa sel mengandung semua informasi genetik yang lengkap.
Bagian yang akan ditumbuhkan melalui
kultur jaringan disebut eksplan. Eksplan yang digunakan biasanya dari jaringan
tumbuhan yang masih muda, misalnya ujung akar, tunas, dan daun muda.
Berdasarkan jenis eksplannya, kultur jaringan dapat dibedakan menjadi kultur
meristem, kultur antera, kultur embrio, kultur protoplas, kultur kloroplas,
kultur polen, dan lain-lain. Eksplan yang telah disterilkan ditumbuhan pada
media steril yang mengandung nutrisi dan zat pengatur tumbuh.
Selama kultur berlangsung, faktor lingkungan seperti cahaya, temperatur,
kelembapan, dan pH diatur pada kondisi yang paling sesuai untuk pertumbuhan
eksplan. Jika nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan keadaan lingkungan sesuai,
eksplan akan tumbuh menjadi massa sel yang belum mengalami diferensiasi yang
disebut kalus. Kalus kemudian tumbuh menjadi tanaman kecil yang telah lengkap
yang disebut plantlet. Sebelum dapat ditanam, plantlet harus diaklimatisasi
selama beberapa waktu sehingga kondisi dan ukurannya sesuai untuk ditanam.
Teknik kultur jaringan sangat
menguntungkan dalam perbanyakan tumbuhan bernilai tinggi. Selain itu tanaman
langka yang terancam punah dapat dilestarikan dengan memanfaatkan kultur
jaringan. Dengan demikian kemajuan industri agrobisnis dapat terwujud dan
ketahanan pangan akan meningkat.
c. Tanaman yang Dapat Menfiksasi
Nitrogen
Serealia atau tumbuhan
rumput-rumputan berbiji merupakan tumbuhan yang menyuplai 50% makanan pokok
penduduk dunia. Namun, serealia tidak memiliki simbion bakteri akar-akarnya
untuk memfiksasi nitrogen, sehingga kebutuhan nitrogen (N2) diperoleh dari
penambahan pupuk buatan. Kelebihan pupuk buatan yang diberikan dapat terbilas
air dan menyemari air minum yang dikonsumsi manusia di lingkungan sekitar.
Dengan bioteknologi, para ilmuwan
mengembangkan tumbuhan yang akar-akarnya dapat bersimbiosis dengan Rhizobium.
Ide ini melibatkan gen nif yang dapat mengontrol fiksasi nitrogen. Para ilmuwan
menyisipkan gen nif ini pada :
1) Tumbuhan serealia
2) Bakteri yang berasosiasi dengan tumbuhan serealia
3) Plasmid TI ( Tumor Inducing) dari Agrobacterium dan kemudian menginfeksikannya ke tumbuhan yang sesuai dengan bakteri yang telah direkayasa.
1) Tumbuhan serealia
2) Bakteri yang berasosiasi dengan tumbuhan serealia
3) Plasmid TI ( Tumor Inducing) dari Agrobacterium dan kemudian menginfeksikannya ke tumbuhan yang sesuai dengan bakteri yang telah direkayasa.
d. Teknologi Tanaman Transgenik
Tanaman transgenik merupakan tanaman
yang telah disusupi DNA asing sebagai pembawa sifat yang diinginkan. DNA
tersebut dapat berasal dari tumbuhan yang beda jenis. Untuk menghasilkan
tanaman transgenik dibutuhkan teknik rekayasa genetika dan vector sebagai
pembawa gen sifat yang diinginkan. Sebagai vector digunakanlah DNA yang berasal
dari bakteri Agrobacterium tumefaciens yang lebih dikenal dengan nama Ti
plasmid (tumor-inducing plasmid). Ti plasmid
memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam
sel tumbuhan selama proses infeksi.
Tahapan untuk memperoleh tanaman
transgenik, adalah sebagai berikut:
1) Ti plasmid dikeluarkan dari sel bakteri
2) Ti plasmid dipotong pada sisi yang spesifik dengan menggunakan enzim restriksi.
3) DNA yang berasal dari sel tanaman dipotong dengan menggunakan enzim restriksi yang sama agar diperoleh sisi yang speksifik. Kemudian gen tanaman yang membawa sifat yang diinginkan dipisahkan dari DNA-nya.
4) Gen tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam plasmid sehingga menghasilkan DNA rekombinan.
5) Plasmid yang telah mengandung gen tersebut dimasukkan ke dalam sel tanaman yang dikultur. Saat ini, sel tanaman telah memiliki gen dari tanaman lain.
6) Terjadi regeberasi sel tumbuhan yang akan terus mengalami pembelahan hingga menjadi satu individu tanaman baru. Tanaman baru ini memiliki sifat baru yang diinginkan dan merupakan tanaman transgenik.
1) Ti plasmid dikeluarkan dari sel bakteri
2) Ti plasmid dipotong pada sisi yang spesifik dengan menggunakan enzim restriksi.
3) DNA yang berasal dari sel tanaman dipotong dengan menggunakan enzim restriksi yang sama agar diperoleh sisi yang speksifik. Kemudian gen tanaman yang membawa sifat yang diinginkan dipisahkan dari DNA-nya.
4) Gen tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam plasmid sehingga menghasilkan DNA rekombinan.
5) Plasmid yang telah mengandung gen tersebut dimasukkan ke dalam sel tanaman yang dikultur. Saat ini, sel tanaman telah memiliki gen dari tanaman lain.
6) Terjadi regeberasi sel tumbuhan yang akan terus mengalami pembelahan hingga menjadi satu individu tanaman baru. Tanaman baru ini memiliki sifat baru yang diinginkan dan merupakan tanaman transgenik.
Teknologi transgenik telah dilakukan
pada beberapa tanaman pertanian seperti jagung, kapas, tomat, padi, kedelai,
dan papaya. Pada kedelai telah dimasukkan beberapa gen yang menyebabkan variasi
pada tanaman kedelai. Pada tanaman jagung telah dimasukkan gen cry dari
Bacillus thuringiensis disebut dengan jagung Bt, yang menyebabkan jagung
menghasilkan protein yang dapat membunuh serangga, seperti kupu-kupu.
Tanaman transgenik ini tidak perlu
disemprot dengan pestisida untuk menyingkirkan hama dan penyakit, sebab dengan
sisipan gen tersebut akan menghasilkan senyawa endotoksin ( senyawa racun)
sehingga tanaman transgenik dapat membrantas hama dengan senyawa racun yang
dikandungnya.
e. Penggunaan Teknologi Nuklir
Teknologi nuklir menggunaan
unsur-unsur radioaktif yang dapat memancarkan sinar radioaktif, antara lain
sinar gama (γ ), sinar alfa (α ) dan sinar beta (β).
Manfaat dari radioaktif seperti sinar gama (γ ) berguna untuk pemuliaan tanaman, yaitu dengan meradiasi sel atau jaringan sehingga akan terjadi mutasi yaitu terjadinya perubahan jumlah kromosom atau gen yang terdapat dalam inti sel, dengan tujuan agar menghasilkan atau memiliki keturunan dengan bibit unggul.
Manfaat dari radioaktif seperti sinar gama (γ ) berguna untuk pemuliaan tanaman, yaitu dengan meradiasi sel atau jaringan sehingga akan terjadi mutasi yaitu terjadinya perubahan jumlah kromosom atau gen yang terdapat dalam inti sel, dengan tujuan agar menghasilkan atau memiliki keturunan dengan bibit unggul.
Hasil dari mutasi yang sering
dinamakan mutan, ternyata memiliki beberapa keuntungan di antaranya cocok
ditanam di persawahan pasang surut yang memiliki kadar garam cukup tinggi,
tahan wereng cokelat dan hijau, tahan penyakit busuk daun, umur lebih pendek,
dapat ditanam pada musim kemarau dalam waktu lebih singkat, hasil panennya
lebih banyak. Tanaman hasil mutasi ini bersifat poliploidi (jumlah kromosomnya
berkelipatan dari kromosom normal) sehingga dapat memberikan hasil yang lebih
tinggi, misalnya cepat berbuah, buahnya lebih besar, dan tidak berbiji.
f. Fusi Protoplas
Fusi protoplas merupakan suatu
proses alamiah yang terdapat dari mulai tanaman tingkat rendah sampai pada
tanaman tingkat tinggi. Fusi protoplas merupakan gabungan protoplas dengan
protoplas lain dari beberapa spesies, kemudian membentuk sel yang dapat tumbuh
menjadi tanaman hibrid. Hibridisasi somatik melalui fusi protoplasma digunakan
untuk menggabungkan sifat lain dua spesies atau genus yang tidak dapat
digabungkan secara seksual ataupun aseksual. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara menggabungkan seluruh genom dari spesies yang sama (intra-spesies), atau
antarspesies dari genus yang sama (inter-spesies), atau antargenus dari satu
famili (inter genus).
Ketika tanaman dilukai, maka
sejumlah sel yang disebut callus akan tumbuh pada tempat yang dilukai tersebut.
Sel-sel callus memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi tunas dan akar
serta keseluruhan tanaman berbunga. Potensi alami sel-sel tersebut yang
terprogram menjadi calon tanaman baru sangat ideal untuk rekayasa genetik.
Seperti pada sel-sel tanaman, sel-sel callus dikelilingi oleh dinding selulosa
yang tebal, yaitu sebuah rintangan yang menghambat pembentukan DNA baru.
Dinding sel tersebut dapat dipecah dengan dinding selulose sehingga
menghasilkan sel tanpa dinding sel yang disebut protoplas. Protoplas ini dapat
digabungkan dengan protoplas lain dari beberapa spesies, kemudian membentuk sel
yang dapat tumbuh menjadi tanaman hibrid. Metode ini disebut fusi protoplas.
Tujuan fusi protoplas adalah untuk
mendapatkan suatu hibrida somatic atau sibrida atau mengatasi kelemahan dari
hibrida seksual. Terdapat kelemahan dari hibrida seksusal, yaitu:
- Sukar untuk mendapatkan suatu hibrida antar spesies dan antar genera. Hibridisasi somatik dapat mengatasi hal tersebut.
- Sitoplasma pada perkawinan seksual hanya berasal dari induk betina saja. Dalam proses pembuahan, ganet jantan hanya membawa inti saja dengan sedikit sitoplasma sebaliknya pada tetua betina selain inti juga sitoplasma. Untuk mendapat sitoplasma dari kedua tetua diadakan fusi antara sitoplasma.
Fusi protoplas dapat dimanfaatkan
untuk melakukan persilangan antar spesies atau galur tanaman yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan dengan persilangan biasa karena adanya masalah
inkompatibilitas fisik. Fusi protoplas membuka kemungkinan untuk:
- Menghasilkan hibrid somatik amphidiploid yang fertil antar spesies yang secara seksual tidak kompatibel
- Menghasilkan galur heterozigot dalam satu spesies tanaman yang secara normal hanya dapat diperbanyak dengan cara vegetatif, misalnya pada kentang.
- Memindahkan sebagian informasi genetik dari satu spesies ke spesies lain dengan memanfaatkan fenomena yang disebut penghilangan kromosom (chromosome elimination).
- Memindahkan informasi genetik yang ada di sitoplasma dari satu galur atau spesies ke galur atau spesies lain
- Fusi protoplas dapat menghasilkan dua macam kemungkinan produk:
- Hibrid, jika nukleus dari kedua spesies tersebut betul-betul mengalami fusi (menyatu)
- Cybrid (cytoplasmid hybrid ataru heteroplast), jika hanya sitoplasma yang mengalami fusi sedangkan informasi genetik dari salah satu induknya hilang.
Teknik ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan dari teknik ini adalah dapat menghasilkan tanaman dengan
sifat tertentu dan dapat dilakukan dengan spesies yang berbeda. Kekurangan dari
teknik ini adalah memerlukan biaya yang mahal serta butuh ketelitan yang lebih.
g. Bioteknologi dalam Pembentukan
Varietas Tanaman Unggul Baru
Teknik-teknik bioteknologi juga
dimanfaatkan untuk membuat jenis tanaman tanaman unggul yang baru. Hal ini
diperlukan untuk mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat, sedangkan
luas lahan pertanian cenderung menurun. Tanaman unggul ini diharapkan mempunyai
produktivitas yang lebih baik. Selain itu, peningkatan hasil, juga dilakukan
upaya perbaikan pada kandungan nutrisi, kelestarian lingkungan, usia panen, dan
berbagai nilai tambah yang lain.
Sebagai contoh, nilai tambah pada
beberapa tanaman unggul yang telah dikembangkan adalah sebagai berikut.
- Peningkatan kandungan nutrisi pada tanaman pisang, cabe, stroberi, dan ubi jalar.
- Peningkatan rasa, misalnya pada tanaman tomat, cabe, buncis, dan kedelai.
- Peningkatan kualitas produk, misalnya pada pisang, cabe, stroberi dengan tingkat kesegaran dan tekstur yang lebih baik.
- Mengurangi reaksi alergi, misalnya pada tanaman polongpolongan dengan kandungan protein penyebab alergi yang lebih rendah
- Kandungan bahan berkhasiat obat, misalnya pada tomat dengan kandungan lycopene yang tinggi yang berguna sebagai antioksidan untuk mengurangi kanker, bawang dengan kandungan allicin untuk menurunkan kolesterol, serta pada padi dengan kandungan vitamin A dan zat besi untuk mengatasi anemia dan kebutaan.
- Tanaman yang mampu memproduksi vaksin dan obatobatan untuk mengobati penyakit manusia, misalnya pada tanaman tembakau yang telah direkayasa sehingga dapat menghasilkan vaksin untuk penyakit kanker.
- Tanaman dengan kandungan nutrisi yang lebih baik untuk pakan ternak
Penerapan bioteknologi tanaman juga
dapat memudahkan petani dalam proses budidaya tanaman. Misalkan dalam
pengendalian gulma yaitu dengan menghasilkan tanaman yang memiliki ketahanan
terhadap jenis herbisida tertentu. Sebagai contoh adalah tanaman berlabel
Roundup Ready yang terdiri dari kedelai, canola (sejenis tanaman penghasil
minyak), dan jagung yang tahan terhadap herbisida Roundup. Di dunia saat ini
telahbanyak dilepas berbagai tanaman jenis baru hasil penerapan bioteknologi.
Misalnya di China pada tahun 2006 telah telah dikembangkan sekitar 30 spesies
tanaman transgenik, antaralain padi, jagung, kapas, kentang, kedelai, tomat
tahan virus, petunia dengan warna bunga bary, paprika tahan virus, dan kapas
tahan hama) yang telah dilepas untuk produksi.
Beberapa jenis tanaman unggul baru
yang dibuat dengan pemanfaatan bioteknologi adalah sebagai berikut.
1) Padi Golden Rice
Padi merupakan tanaman pangan utama
dunia. Dengan demikian padi menjadi prioritas utama dalam bioteknologi. Selain
padi, tanaman pangan yang telah banyak mendapat sentuhan bioteknologi adalah
kentang. Penerapan bioteknologi pada tanaman padi sebenarnya telah lama
dilakukan. Salah satu produknya adalah pari jenis golden rice yang dikenalkan
pada tahun 2001. Diharapkan padi jenis ini dapat membantu jutaan orang yang
mengalami kebutaan dan kematian dikarenakan kekurangan vitamin A dan besi.
Vitamin A sangat penting untuk penglihatan, respon kekebalan, perbaikan sel,
pertumbuhan tulang, reproduksi, hingga penting untuk pertumbuhan embrionik.
Nama Golden Rice diberikan karena
butiran yang dihasilkan berwarna kuning menyerupai emas karena mengandung
karotenoid. Rekayasa genetika merupakan metode yang digunakan untuk produksi
Golden Rice. Hal ini disebabkan karena tidak ada plasma nutfah padi yang mampu
untuk mensintesis karotenoid.
2) Kentang Russet Burbank
Teknik bioteknologi saat ini telah
banyak digunakan dalam produksi kentang. Baik dalam teknik penyediaan bibit,
pemuliaan kentang, hingga rekayasa genetika untuk meningkatkan sifat-sifat
unggul kentang. Dalam hal penyediaan bibit, saat ini teknik kultur jaringan
telah banyak digunakan. Teknik kultur jaringan me-mungkinkan petani mendapatkan
bibit dalam jumlah besar yang identik dengan induknya. Contoh varietas kentang
baru adalah kentang Russet Burbank yang memiliki kandungan pati yang tinggi
yang dapat menghasilkan kentang goreng dan kripik kentang dengan kualitas yang
lebih baik karena menyerap lebih sedikit minyak ketika digoreng.
3) Tomat FlavrSavr
Teknologi rekayasa genetika juga telah
diaplikasikan pada tanaman hortiklutura. Sebagai contoh yang cukup terkenal
adalah tomat FlavrSavr, yaitu jenis tomat yang buah matangnya tidak lekas
rusak/membusuk. Hal ini sangat berbeda dengan tanaman tomat lain, di mana buah
yang matang cepat menjadi rusak. Sifat tomat FlavrSavr ini sangat berguna dalam
pengiriman buah ke tempat yang jauh sebelum tiba di tangan konsumen.
4) Tembakau Rendah Nikotin
Salah satu dari sekian banyak
kerugian merokok adalah gangguan kesehatan karena kadar nikotin yang tinggi.
Pendekatan bioteknologi dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan
merakit tanaman tembakau yang bebas kandungan nikotin. Pada tahun 2001 jenis
tembakau ini diklaim dapat mengurangi resiko serangan kanker akibat merokok.
Selain bebas nikotin, sentuhan bioteknologi lain juga dilakukan untuk tanaman
tembakau misalnya dengan meningkatkan aroma menggunakan gen aroma dari tanaman
lain. Salah satu yang telah berhasil adalah mengabungkannya dengan aroma buah
lemon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar